Sejak dulu saya selalu diajarkan untuk menjadi orang pintar trus nantinya bekerja dan mempunyai penghasilan yang layak. Waktu itu saya berfikir bahwa menjadi orang “nomor 1″ adalah tujuan hidup sehingga seringkali bila menjadi “nomor 1″, seseorang merasa dirinya diatas segalanya. Contoh terkecil dapat saya lihat dari pelanggan warnet saya. Rata-rata anak2 yang pintar mempunyai tabiat yang kurang baik, sombong dan memandang rendah teman2nya yang kurang pintar.

Dari sini saya dapat mengambil kesimpulan bahwa “mencetak” anak menjadi pintar adalah pekerjaan mudah tetapi menjadikan anak pintar dan rendah hati merupakan hal yang sangat sulit.

Baru-baru ini saya mengalami hal sederhana yang membuat mata hati saya terbuka. Saya didaulat untuk menjadi pelatih team futsal anak2. Mereka begitu percaya 100% kalo saya mampu membawa kemenangan.. Alhamdulillah team kami terus merangkak naik but akhirnya kandas diposisi 3. Anak2 sangat bangga dan berterima kasih kepada saya. Pada saat itu saya sangat gembira dan merasa diri saya menjadi bermanfaat bagi anak2.

Ternyata lebih “nikmat” menjadi org bermanfaat daripada menjadi org pintar ataupun kaya but untuk menjadi org bermanfaat kita harus memiliki ilmu.. so adalah kurang tepat bila kita mendidik (menuntut) anak kita untuk menjadi org pintar or kaya.

Akan lebih bijaksana apabila org tua “menuntut” anaknya untuk menjadi seorang yg bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya..

“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang dapat bermanfaat bagi manusia lainnya”